Borneo

Google Translate

Tampilkan postingan dengan label Tambang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tambang. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Mei 2010

Sumber Daya Mineral dan Genesa Bahan Galian



SUMBER DAYA MINERAL


Sumberdaya Alam atau Minerals biasa disebut juga BAHAN GALIAN , dimana dalam proses pembentukannya memerlukan waktu jutaan tahun dan sifat utamanya tidak terbarukan (Un renewable).

Dialam apabila bahan galian dijumpai dalam bentuk ASLI nya , maka bahan galian tersebut dapat langsung diambil serta digunakan untuk keperluan manusia . Namun apabila bahan galian tersebut berbentuk SENYAWA dengan unsur lain , maka sebelum digunakan biasanya bahan galian tersebut harus diolah lebih dahulu.

Berdasarkan jenisnya BAHAN GALIAN secara garis besar digolongkan menjadi 4 jenis, yaitu :

1. Bahan Galian LOGAM
a. Logam Mulia ( Au, Ag, Pt dan Hg )
b. Logam Besi ( Fe, Ni, Mn, Cr, Wo dan Mo )
c. Logam Bukan Besi ( Sn, Al, Cu, Pb, Zn, Bi, Sb dan Ti )
d. Mineral Jarang (Cr, Co, Mg)

2. Bahan Galian BUKAN LOGAM
a. Mineral Industri
b. Batu Mulia

3. Bahan Galian BATUAN / Konstruksi

4. Bahan Galian RADIO AKTIF
a. Uranium
b. Rhadium, Thorium dll

Berdasarkan UU PMB Nomor 4 Tahun 2009, Tgl 12 Januari 2009

GENESA BAHAN GALIAN

Emas (Au), Mineral Emas dialam bijihnya dapat diperoleh sebagai emas murni (Native Gold) , Elektum (Au,Ag). Biasanya emas terdapat dalam cebakan pada berbagai macam batuan seperti batuan sedimen, batuan volkanik, batuan beku dan batuan metamorf.

Perak (Ag) ,kebanyakan perak berasal dari cebakan hidrotermal tipe pengisian ( Fisure filling) pada urat-urat (Vein) .

Platina (Pt), Bijih platina terjadi secara konsentrasi magmatik didalam batuan beku ultra basa. Bijih platina placer (Endapan sekunder) terbentuk karena proses pengendapan kembali dari hasil pelapukan / erosi terhadap endapan bijih primer.


Air Raksa (Hg), hampir semua bijih air raksa terjadi dari larutan hydrothermal sebagai aktifitas pengisi rongga (Cavity Filling) dan alih tempat (Replacement).

Bauksit (Al), bijih bauksit terjadi karena proses pelapukan (Residual Concentration ) dari batuan yang kaya akan mineral feldspar atau mineral alumina silikat lainnya. Adapun batuan induknya tersebut antara lain Granit, Granodiorit, Syenit, Dasit , Riolit dll.

Besi (Fe), bijih besi seperti logam yang lainnya terbentuknya akibat proses magmatik, kontak metasomatik dan replacemen. Bijih besi yang didapat dialam antara lain Magnetit, Hematit, Pirit dan Siderit.


Tembaga (Cu), Hampir sebagian besar cebakan Tembaga terjadi dari Proses larutan Hidrothermal, dengan tipe alih tempat (Replacemen) dan pengisian rongga (Cavity filling) pada batuan beku, sedimen maupun metamorf.

Timah Hitam (Pb), Dialam timah hitam selalu bersosiasi dengan mineral seng, yang terjadi karena proses hydrothermal suhu rendah dengan type endapan pengisian rongga ( Cavity filling ) dan alih tempat (Replacemen ). Bahan tambangnya di alam antara lain didapat sebagai mineral Galena, Serusit dan Anglesit.

Antimoni (Sb), Kebanyakan bijih antimoni terjadi dari larutan Hidrothermal temperatur rendah dan dangkal, mengisi celah-celah dan rongga-rongga yang bentuknya tak beraturan. Beberapa endapan primer telah mengalami pengayaan oleh residu pelapukan, membentuk bijih oksida.


Mangan (Mn), Kebanyakan endapan mangan yang prospek merupakan endapan sedimenter dan residual. Secara primer bisa terjadi akibat proses Hidrothermal dan Metamorfosa (Malihan ).

Barit , Secara primer merupakan hasil endapan larutan hydrothermal dalam bentuk pengisian rekahan (Fissure filling), pengisian antar breksi (Breccia filling) atau merupakan hasil alih tempat (Replacemen deposits).

Feldspar, Mineral feldspar merupakan mineral pembentuk batuan beku terutama batuan beku dalam, terjadi selama proses kristalisasi magma baik melalui proses pneumatolitic ataupun proses hydrothermal dalam urat pegmatite.


Garam Alam, Yodium atau Garam Alam sebagai bahan galian berasosiasi dengan cekungan minyak bumi dan gas bumi ataupun pada mata air garam. Biasanya Yodium berasosiasi dengan Bromium.

Batugamping, Batugamping terjadinya dilaut karena proses biologi, yakni sisa-sisa binatang laut seperti koral, foram, kerang yang mati dan terkumpul . Atau karena proses kimiawi yakni pengendapan secara kimiawi larutan-larutan karbonat yang terbawa sungai kelaut dan pada kedalaman tertentu mengendap.

Kalsit, Kalsit biasa terdapat dalam batugamping atau batuan sedimen lainnya yang merupakan hasil rekristalisasi larutan kalsium karbonat dari batugamping atau batuan karbonat lainnya, mengisi celah-celah atau goa didalam tanah.


Batu Sabak, Terjadi akibat proses metamorfosa regional pada batuan sedimen ( Batu lanau dan Batu Lempung ) dan mengakibatkan kekerasannya cukup tinggi.

Intan (C), Terjadinya karena proses metamorfosa dibawah permukaan bumi yang sangat dalam sekali. Intan Primer terdapat sebagai Xenocryst pada batuan Kimberlit. Endapan Intan Placer/Alluvial terjadi karena “Rework” dari endapan primer.

Agate, Agate merupakan kelompok Kalsedon atau mineral yang terjadi oleh pembekuan larutan magma yang mengisi rekahan (Cavity filling) dan urat-urat (Vein) batuan.

Minggu, 11 April 2010

Batuan Metamorf

Batuan Metamorf



Definisi Metamorfosa dan Batuan Metamorf

Kata “metamorfosa” berasal dari bahasa Yunani, yaitu “metamorphism” dimana “meta” yang artinya “berubah” dan “morph” yang artinya “bentuk”. Dengan demikian pengertian “metamorfosa” dalam geologi adalah merujuk pada perubahan dari kelompok mineral dan tekstur batuan yang terjadi dalam suatu batuan yang mengalami tekanan dan temperature yang berbeda dengan tekanan dan temperatur saat batuan tersebut pertama kalinya terbentuk.

Sebagai catatan bahwa istilah “diagenesa” juga mengandung arti perubahan yang terjadi pada batuan sedimen. Hanya saja proses diagenesa terjadi dibawah pada temperatur dibawah 200° C dan tekanan dibawah 300 MPa (MPa = Mega Pascal) atau setara dengan tekanan sebesar 3000 atmosfir, sedangkan “metamorofsa” terjadi pada temperatur dan tekanan diatas “diagenesa”. Batuan yang dapat mengalami tekanan dan temperatur diatas 300 Mpa dan 200° C umumnya berada pada kedalaman tertentu dan biasanya berasosiasi dengan proses tektonik, terutama di daerah tumbukan lempeng atau zona subduksi. Batas atas antara proses metamorfosa dan pelelehan batuan masih menjadi pertanyaan hingga saat ini. Sekali batuan mulai mencair, maka proses perubahan merupakan proses pembentukan batuan beku.

Batuan metamorf adalah batuan yang terbentuk dari batuan asal (batuan beku, sedimen, metamorf) yang mengalami perubahan temperatur(T), tekanan (P), atau Temperatur (T) dan Tekanan (P) secara bersamaan yang berakibat pada pembentukan mineral-mineral baru dan tekstur batuan yang baru.

Tipe Metamorfosa

1. Metamorfosa Kataklastik adalah metamorfosa yang diakibatkan oleh deformasi mekanis, seperti yang terjadi pada dua blok batuan yang mengalami pergeseran satu dan lainnya disepajang suatu zona sesar / patahan. Panas yang ditimbulkan oleh gesekan yang terjadi disepanjang zona patahan ini akan mengakibatkan batuan tergerus dan termetamorfosokan disepanjang zona ini. Metamorfosa kataklastik jarang dijumpai dan biasanya menyebaran terbatas hanya disepanjang zona sesar.

2. Metamorfosa Burial adalah metamorfosa yang terjadi apabila batuan-batuan sedimen yang berada pada kedalaman tertentu dimana kondisi temperaturnya lebih besar dari 300° C dan absennya tekanan diferensial. Mineral-mineral baru akan berkembang, akan tetapi batuan tampak seperti tidak mengalami metamorfosa. Mineral utama yang dihasilkan adalah mineral zeolite. Metamorfosa burial umumnya saling overlap dengan diagenesa dan akan berubah menjadi metamorfosa regional seiring dengan meningkatnya tekanan dan temperatur.

3. Metamorfosa Kontak adalah metamorfosa yang terjadi didekat intrusi batuan beku dan merupakan hasil dari kenaikan temperatur yang tinggi dan berhubungan dengan intrusi batuan beku. Metamorfosa kontak hanya terjadi disekeliling intrusi yang terpanaskan oleh magma dan bagian kontak ini dikenal sebagai “aureole metamorphic”. Derajat metamorfosa akan meningkat kesegala arah kearah luar dari tubuh intrusi. Metamorfosa kontak biasanya dikenal sebagai metamorfosa yang bertekanan rendah dan temperatur tinggi dan batuan yang dihasilkan seringkali batuan berbutir halus tanpa foliasi dan dikenal sebagai hornfels.

4. Metamorfosa Regional adalah metamorfosa yang terjadi pada wilayah yang sangat luas dimana tingkat deformasi yang tinggi dibawah tekanan diferensial. Metamorfosa jenis ini biasanya akan menghasilkan batuan metamorf dengan tingkat foliasi yang sangat kuat, seperti Slate, Schists, dan Gneisses. Tekanan diferensial berasal dari gaya tektonik yang berakibat batuan mengalami tekanan (kompresi), dan tekanan ini umumnya berasal dari dua masa benua yang saling bertumbukan satu dengan lainnya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa batuan metamorfosa regional terjadi pada inti dari rangkaian pegunungan atau pegunungan yang mengalami erosi. Hasil dari tekanan kompresi pada batuan yang terlipat dan adanya penebalan kerak dapat mendorong batuan kearah bagian bawah sehingga menjadi lebih dalam yang memiliki tekanan dan temperatur lebih tinggi.

Derajat Metamorfosa

Berdasarkan tekanan dan temperatur yang berada diatas kondisi diagenesa, maka ada 3 tingkat derajat metamorfosa yang dapat dikenal, yaitu derajat metomorfosa rendah, sedang dan tinggi. Adapun batas antara metamorfosa dan peleburan sangat dipengaruhi oleh jenis batuan dan jumlah air yang terdapat dalam batuan.

Pada gambar 3.20 diperlihatkan hubungan antara Tekanan (P), Temperatur (T), Kedalaman (D) dan Tipe/Jenis Metamorfosa. Metamorfosa Burial dicirikan oleh tekanan, temperatur, yang rendah dan kedalaman yang relatif dangkal. Tipe metamorfosa akan meningkat seiring dengan meningkatnya tekanan, temperatur, dan kedalaman, yaitu dari Burial Metamorfosa berubah menjadi Metamorfosa Regional Derajat Rendah dan kemudian dengan semakin meningkatnya tekanan, temperatur dan kedalaman Metamorfosa Regional Derajat Rendah dapat berubah menjadi Metamorfosa Regional Derajat Tinggi, sedangkan pada kedalaman (D > 20 km), Tekanan (P > 7 kilobars), dan Temperatur (T > 700° C ) batuan akan mengalami peleburan (mencair) menjadi magma.


Kecepatan dimana suatu batuan akan mengalami perubahan dari sekumpulan mineral-mineralnya untuk mencapai keseimbangan pada kondisi tekanan dan temperatur yang baru tergantung pada 3 (tiga) faktor, yaitu:

1. Kandungan fluida (terutama air) yang ada dalam batuan. Air yang ada dalam batuan berfungsi sebagai katalisator dalam mentransformasi mineral-mineral yang terdapat dalam batuan.

2. Temperatur, reaksi kimia akan terjadi lebih cepat pada temperatur yang lebih tinggi.

3. Waktu, untuk dapat tumbuhnya kelompok mineral mineral metamorfik yang baru pada suatu batuan sangat dipengaruhi oleh tekanan dan temperatur yang bekerja terhadap batuan tersebut, oleh karena itu batuan tersebut harus mendapat tekanan dan temperatur yang cukup lama (umumnya ribuan hingga jutaan tahun).

Perubahan yang terjadi didalam kelompok mineral mencerminkan suatu peningkatan dalam derajat metamorfosa (contoh, burial sedimentary atau penebalan kerak akibat tektonik) yang dikenal dengan “prograde metamorphism”. Perubahan yang disebabkan oleh suatu penurunan dalam derajat metamorfosa ( contoh, adanya pengangkatan tektonik dan erosi) dikenal dengan “retrograde”.

Perubahan dalam kelompok mineral pada suatu batuan metamorf didorong oleh komponen-komponen kimiawinya untuk mencapai konfigurasi energi yang terendah pada kondisi tekanan dan temperatur yang ada. Jenis jenis mineral yang terbentuk tergantung tidak saja pada T dan P tetapi juga pada komposisi mineral yang terdapat dalam batuan. Apabila suatu tubuh batuan mengalami peningkatan tekanan dan atau temperatur maka batuan tersebut berada dalam keadaan “prograde metamorphism” atau batuan mengalami peningkatan derajat metamorfosanya. Derajat metamorfosa adalah istilah yang umum yang dipakai untuk menjelaskan kondisi tekanan dan temperatur dimana batuan metamorf terbentuk.


Metamorfosa derajat rendah terjadi pada temperatur antara 200° – 320° C dan tekanan yang relatif rendah. Batuan metamorf derajat rendah dicirikan oleh berlimpahnya mineral-mineral hydrous, yaitu mineral-mineral yang mengandung air (H2O) didalam struktur kristalnya). Contoh dari mineral-mineral hydrous yang terdapat pada batuan-batuan metamorf derajat rendah:

· Mineral Lempung

· Serpentine

· Chlorite

Metamorfosa derajat tinggi terjadi pada temperatur lebih besar dari 320°C dan tekanan yang relatif tinggi. Seiring dengan meningkatnya derajat metamorfosa, maka mineral-mineral hydrous akan semakin kurang hydrous dikarenakan hilangnya unsur H2O dan mineral-mineral non-hydrous menjadi bertambah banyak. Contoh mineral-mineral yang kurang hydrous dan mineral-mineral non-hydrous yang mencirikan batuan metamorfosa derajat tinggi adalah:
Batuan yang berada jauh didalam perut bumi dapat mengalami penurunan tekanan dan temperatur apabila mengalami erosi sebagai akibat dari pengangkatan secara tektonik. Peristiwa tersingkapnya batuan akibat erosi ini memungkinan batuan mengalami pembalikan proses metamorfosa, yaitu batuan kembali pada kondisi awal sebelum mengalami metamorfosa. Pembalikan proses metamorfosa seperti ini dikenal dengan istilah metamorfosa retrogresif. Apabila proses metamorfosa retrogresif merupakan sesuatu yang bersifat umum, maka batuan jenis ini seharusnya juga umum dijumpai dipermukaan bumi, namun demikian kenyataannya bahwa batuan metamorfosa retrogresif jarang dijumpai tersingkap dipermukaan bumi. Alasan alasan mengapa batuan retrogresif tidak umum dijumpai adalah:Reaksi kimia juga akan dipercepat dengan hadirnya fluida, tetapi jika fluida tidak berfungsi sebagai pendorong pada proses metamorfosa retrogresif, maka percepatan reaksi kimia tidak terjadi selama proses metamorfosa retrogresif berlangsung.Pada dasarnya metamorfosa terjadi karena beberapa mineral hanya akan stabil pada kondisi tekanan dan temperatur tertentu. Ketika tekanan dan temperaturnya berubah, reaksi kimia terjadi akan menyebabkan mineral-mineral yang terdapat dalam batuan berubah menjadi sekumpulan mineral yang stabil pada kondisi tekanan dan temperatur yang baru. Namun demikian proses ini sangat komplek, seperti seberapa besar tekanan yang diperlukan agar supaya batuan berubah, waktu yang dibutuhkan untuk merubah batuan, ada tidaknya larutan fluida selama proses metamorfosa.Tekanan juga akan meningkat dengan kedalaman bumi, dengan demikian tekanan dan temperatur akan bervariasi disetiap tempat di kedalaman bumi. Tekanan didefinisikan sebagai gaya yang bekerja kesegala arah secara seimbang dan tekanan jenis ini disebut sebagai “hydrostatic stress” atau “uniform stress”. Jika tekanan kesegala arah tidak seimbang maka disebut sebagai “differential stress”.Jika tekanan diferensial hadir selama proses metamorfosa, maka tekanan ini dapat berdampak pada tektur batuan. Butiran butiran yang berbentuk membundar (rounded) akan berubah menjadi lonjong dengan arah orientasinya tegak lurus dengan tekanan maksimum dari tekanan diferensial. Mineral-mineral yang berbentuk kristal atau mineral yang tumbuh dalam kondisi tekanan diferensial dapat membentuk orientasi. Hal ini terutama terjadi pada mineral-mineral silikat, seperti mineral biotite dan muscovite, chlorite, talc, dan serpentine. Mineral-mineral silikat yang tumbuh dengan lembarannya berorientasi tegak lurus terhadap arah maksimum tekanan diferensial akan menyebabkan batuan mudah pecah sejajar dengan arah oerientasi dari lembaran mineralnya. Struktur yang demikian disebut sebagai Keberadaan setiap rongga antar butir dalam suatu batuan menjadi potensi untuk diisi oleh larutan fluida, dan umumnya larutan fluida yang paling dominan adalah H2O, tetapi berisi material mineral. Fase fluida adalah fase yang penting karena rekasi kimia yang melibatkan sau mineral padat berubah menjadi mineral padat lainnya hanya dapat dipercepat oleh adanya fluida yang berfungsi sebagai pembawa ion-ion terlarut. Dengan naiknya tekanan pada proses metamorfosa, maka ruang antar butir tempat fluida mengalir menjadi berkurang dan dengan demikian fluida menjadi tidak berfungsi sebagai penggerak reaksi. Dengan demikian tidak ada larutan fluida ketika temperatur dan tekanan berkurang sehingga metamorfosa retrogresif menjadi sulit terjadi.
Reaksi kimia yang terlibat dalam metamorfosa, selama re-kristalisasi, dan pertumbuhan mineral-mineral baru terjadi pada waktu yang sangat lambat. Hasil uji laboratorium mendukung hal tersebut dimana dibutuhkan waktu yang lama dalam proses metamorfosa untuk membentuk butiran butiran mineral yang ukurannya cukup besar. Jadi, batuan metamorf yang berbutir kasar akan memerlukan waktu yang lama, diperkirakan membutuhkan waktu hingga jutaan tahun.

Sabtu, 03 April 2010

Batuan Sedimen


BATUAN SEDIMEN

Defenisi: 

              Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk dari akumulasi material hasil perombakan batuan yang sudah ada sebelumnya atau hasil aktivitas kimia organisme, yang diendapkan lapis demi lapis pada permukaan bumi yang kemudian mengalami pembatuan.
Komposisi

 Dalam batuan sedimen dapat dijumpai fragmen batuan maupun mineral. Mineral-mineral yang umum dan banyak dijumpai dalam batuan sedimen adalah:

• Kwarsa • Mika • Kalsit

• Feldsfar • Dolomit • Mineral lempung


Tekstur 

Berdasarkan kejadiannya, batuan sedimen dibedakan menjadi batuan sedimen klastik dan nonnkalstik. Batuan sedimen klastik adalah batuan sedimen terbetuk dari material-material hasil perombakan batuan yang telah ada sebelumnya. Batuan sedimen nonklastik adalah batuan sedimen yang terbentuk dari material-material hasil aktivitas kimia (termasuk biokimia). Dari kedua macam batuan sedimen tersebut dikenal tekstur klastik dan nonklastik.

1. Tekstur klastik

Semua batuan sedimen klastik mempunyai tekstur klastik. Yang perlu diperhatikan pada batuan tersebut adalah ukuran butir dan bentuk butir.

2. Tekstur nonklastik

Semua batuan nonklastik mempunyai tekstur nonklastik. Ciri khas dari tekstur nonklastik adalah adanya kristal-kristal yang saling menjari, tidak ada ruang pori-pori antar butir dan umumnya monomineralik.


Klasifikasi butiran kristal dalam tektur nonklastik
Beberapa tekstur nonklastik yang penting adalah :

a. Amorf. Partikel-partikel umumnya berukuran lempung atau koloid, nonkristalin.

    Misal : rijang masif

b. Oolistik. Tersusun oleh kristal-kristal kecil berbentuk bulat atau elipsoid, terkumpul seperti         telur ikan, butir-butiran berukuran 0,25 – 0,2 mm.  

    Misal : batugamping oolit.

c. Pisolitik. Seperti oolitik, tetapi butiran berukuran lebih besar dari 2 mm.

    Misal : batugamping pisolitik.

d. Sakaroidal. Partikel-pertikel berbutir halus, sama besar (equigranular).

    Misal batugamping sakaroidal.

e. Kristalin. Bila tersusun oleh kristal-kristal besar.

Struktur

Struktur dari batuan sedimen lebih tergantung pada hubungan antara kelompok-kelompok sedimenter dari pada hubungan antar butir yang menentukan dan mengontrol tekstur. Struktur batuan sedimen yang benar-benar lebih baik dipelajari di lapangan dari pada dari contoh genggaman.


Struktur batuan sedimen dibedakan menjadi tiga macam, yaitu :

1. Struktur fisika (mekanik), terbentuk karena proses-proses fisika. Beberapa macam teksturnya adalah :

a. Berlapis, terlihat di lapangan sebagai susunan yang berlapis-lapis. Bila ketebalan individu lapisan lebih besar dari 1 cm dinamakan lapisan, sedangkan bila lebih kecil dari 1 cm dinamakan laminasi.
b. Bergradasi, bila butir-butiran dalam tubuh batuan dari bawah ke atas makin halus.
c. Silang siur, yaitu satu seri perlapisan yang saling potong memotong dalam tubuh batuan sedimen.
d. Masif, bila dalam tubuh batuan sedimen tidak terlihat struktur sedimen.

Sabtu, 27 Februari 2010

Batuan Beku

Dari pembahasan minggu lalu tentang tambang saya mengepostkan tentang mineral, dan postan minggu ini merupakan lanjutannya.

Batuan Beku

1 Pengertian Batuan Beku

Batuan beku atau batuan igneus dari Bahasa Latin: ignis, "api" adalah jenis batuan yang terbentuk dari magma yang mendingin dan mengeras, dengan atau tanpa proses kristalisasi, baik di bawah permukaan sebagai batuan intrusif (plutonik) maupun di atas permukaan sebagai batuan ekstrusif (vulkanik). Magma ini dapat berasal dari batuan setengah cair ataupun batuan yang sudah ada, baik di mantel ataupun kerak bumi. Umumnya, proses pelelehan terjadi oleh salah satu dari proses-proses berikut: kenaikan temperatur, penurunan tekanan, atau perubahan komposisi. Lebih dari 700 tipe batuan beku telah berhasil dideskripsikan, sebagian besar terbentuk di bawah permukaan kerak bumi.

2 Struktur Batuan Beku

Berdasarkan tempat pembekuannya batuan beku dibedakan menjadi batuan beku extrusive dan intrusive. Hal ini pada nantinya akan menyebabkan perbedaan pada tekstur masing masing batuan tersebut. Kenampakan dari batuan beku yang tersingkap merupakan hal pertama yang harus kita perhatikan. Kenampakan inilah yang disebut sebagai struktur batuan beku

a. Struktur batuan beku ekstrusif

Batuan beku ekstrusif adalah batuan beku yang proses pembekuannya berlangsung dipermukaan bumi. Batuan beku ekstrusif ini yaitu lava yang memiliki berbagia struktur yang memberi petunjuk mengenai proses yang terjadi pada saat pembekuan lava tersebut. Struktur ini diantaranya:
a. Masif, yaitu struktur yang memperlihatkan suatu masa batuan yang terlihat seragam.
b. Sheeting joint, yaitu struktur batuan beku yang terlihat sebagai lapisan
c. Columnar joint, yaitu struktur yang memperlihatkan batuan terpisah poligonal seperti batang pensil.
d. Pillow lava, yaitu struktur yang menyerupai bantal yang bergumpal-gumpal. Hal ini diakibatkan proses pembekuan terjadi pada lingkungan air.
e. Vesikular, yaitu struktur yang memperlihatkan lubang-lubang pada batuan beku. Lubang ini terbentuk akibat pelepasan gas pada saat pembekuan.
f. Amigdaloidal, yaitu struktur vesikular yang kemudian terisi oleh mineral lain seperti kalsit, kuarsa atau zeolit
g. Struktur aliran, yaitu struktur yang memperlihatkan adanya kesejajaran mineral pada arah tertentu akibat aliran

b. Struktur Batuan Beku Intrusif 

Batuan beku ekstrusif adalah batuan beku yang proses pembekuannya berlangsung dibawah permukaan bumi. berdasarkan kedudukannya terhadap perlapisan batuan yang diterobosnya struktur tubuh batuan beku intrusif terbagi menjadi dua yaitu konkordan dan diskordan.

Konkordan 

Tubuh batuan beku intrusif yang sejajar dengan perlapisan disekitarnya, jenis jenis dari tubuh batuan ini yaitu :
a. Sill, tubuh batuan yang berupa lembaran dan sejajar dengan perlapisan batuan disekitarnya.
b. Laccolith, tubuh batuan beku yang berbentuk kubah (dome), dimana perlapisan batuan yang asalnya datar menjadi melengkung akibat penerobosan tubuh batuan ini, sedangkan bagian dasarnya tetap datar. Diameter laccolih berkisar dari 2 sampai 4 mil dengan kedalaman ribuan meter.
c. Lopolith, bentuk tubuh batuan yang merupakan kebalikan dari laccolith, yaitu bentuk tubuh batuan yang cembung ke bawah. Lopolith memiliki diameter yang lebih besar dari laccolith, yaitu puluhan sampai ratusan kilometer dengan kedalaman ribuan meter.
d. Paccolith, tubuh batuan beku yang menempati sinklin atau antiklin yang telah terbentuk sebelumnya. Ketebalan paccolith berkisar antara ratusan sampai ribuan kilometer


Diskordan

Tubuh batuan beku intrusif yang memotong perlapisan batuan disekitarnya

Tekstur Batuan Beku

Magma merupakan larutan yang kompleks. Karena terjadi penurunan temperatur, perubahan tekanan dan perubahan dalam komposisi, larutan magma ini mengalami kristalisasi. Perbedaan kombinasi hal-hal tersebut pada saat pembekuan magma mengakibatkan terbentuknya batuan yang memilki tekstur yang berbeda.


Ketika batuan beku membeku pada keadaan temperatur dan tekanan yang tinggi di bawah permukaan dengan waktu pembekuan cukup lama maka mineral-mineral penyusunya memiliki waktu untuk membentuk sistem kristal tertentu dengan ukuran mineral yang relatif besar. Sedangkan pada kondisi pembekuan dengan temperatur dan tekanan permukaan yang rendah, mineral-mineral penyusun batuan beku tidak sempat membentuk sistem kristal tertentu, sehingga terbentuklah gelas (obsidian) yang tidak memiliki sistem kristal, dan mineral yang terbentuk biasanya berukuran relatif kecil. Berdasarkan hal di atas tekstur batuan beku dapat dibedakan berdasarkan :

1. Tingkat kristalisasi
a) Holokristalin, yaitu batuan beku yang hampir seluruhnya disusun oleh kristal
b) Hipokristalin, yaitu batuan beku yang tersusun oleh kristal dan gelas
c) Holohyalin, yaitu batuan beku yang hampir seluruhnya tersusun oleh gelas
2. Ukuran butir
a) Phaneritic, yaitu batuan beku yang hampir seluruhmya tersusun oleh mineral-mineral yang berukuran kasar.
b) Aphanitic, yaitu batuan beku yang hampir seluruhnya tersusun oleh mineral berukuran halus.
3. Bentuk kristal
Ketika pembekuan magma, mineral-mineral yang terbentuk pertama kali biasanya berbentuk sempurna sedangkan yang terbentuk terakhir biasanya mengisi ruang yang ada sehingga bentuknya tidak sempurna. Bentuk mineral yang terlihat melalui pengamatan mikroskop yaitu:
a) Euhedral, yaitu bentuk kristal yang sempurna
b) Subhedral, yaitu bentuk kristal yang kurang sempurna
c) Anhedral, yaitu bentuk kristal yang tidak sempurna.
4. Berdasarkan kombinasi bentuk kristalnya
a) Unidiomorf (Automorf), yaitu sebagian besar kristalnya dibatasi oleh bidang kristal atau bentuk kristal euhedral (sempurna)
b) Hypidiomorf (Hypautomorf), yaitu sebagian besar kristalnya berbentuk euhedral dan subhedral.
c) Allotriomorf (Xenomorf), sebagian besar penyusunnya merupakan kristal yang berbentuk anhedral.
5. Berdasarkan keseragaman antar butirnya
a) Equigranular, yaitu ukuran butir penyusun batuannya hampir sama
b) Inequigranular, yaitu ukuran butir penyusun batuannya tidak sama

Jumat, 19 Februari 2010

MINERAL

MINERAL  

1. Mineral 

Definisi dan klasifikasi Mineral 

Mineral dapat kita definisikan sebagai bahan padat anorganik yang terdapat secara alamiah, yang terdiri dari unsur-unsur kimiawi dalam perbandingan tertentu, dimana atom-atom didalamnya tersusun mengikuti suatu pola yang sistimatis. Mineral dapat kita jumpai dimana-mana disekitar kita, dapat berwujud sebagai batuan, tanah, atau pasir yang diendapkan pada dasar sungai. Beberapa daripada mineral tersebut dapat mempunyai nilai ekonomis karena didapatkan dalam jumlah yang besar, sehingga memungkinkan untuk ditambang seperti emas dan perak. Mineral, kecuali beberapa jenis, memiliki sifat, bentuk tertentu dalam keadaan padatnya, sebagai perwujudan dari susunan yang teratur didalamnya. Apabila kondisinya memungkinkan, mereka akan dibatasi oleh bidang-bidang rata, dan diasumsikan sebagai bentuk-bentuk yang teratur yang dikenal sebagai “kristal”. Dengan demikian, kristal secara umum dapat di-definisikan sebagai bahan padat yang homogen yang memiliki pola internal susunan tiga dimensi yang teratur. Studi yang khusus mempelajari sifat-sifat, bentuk susunan dan cara-cara terjadinya bahan padat tersebut dinamakan kristalografi.


Pengetahuan tentang “mineral” merupakan syarat mutlak untuk dapat mempelajari bagian yang padat dari Bumi ini, yang terdiri dari batuan. Bagian luar yang padat dari Bumi ini disebut litosfir, yang berarti selaput yang terdiri dari batuan, dengan mengambil “lithos” dari bahasa latin yang berarti batu, dan “sphere” yang berarti selaput. Tidak kurang dari 2000 jenis mineral yang kita ketahui sekarang. Beberapa daripadanya merupakan benda padat dengan ikatan unsur yang sederhana. Contohnya adalah mineral intan yang hanya terdiri dari satu jenis unsur saja yaitu “Karbon”. Garam dapur yang disebut mineral halit, terdiri dari senyawa dua unsur “Natrium” dan “Chlorit” dengan simbol NaCl. Setiap mineral mempunyai susunan unsur-unsur yang tetap dengan perbandingan tertentu.

Studi yang mempelajari segala sesuatunya tentang mineral disebut “Mineralogi”, didalamnya juga mencakup pengetahuan tentang “Kristal”, yang merupakan unsur utama dalam susunan mineral. Pengetahuan dan pengenalan mineral secara benar sebaiknya dikuasai terlebih dahulu sebelum mempelajari dasar-dasar geologi atau “Geologi Fisik”, dimana batuan, yang terdiri dari mineral, merupakan topik utama yang akan dibahas. Diatas telah dijelaskan bahwa salah satu syarat utama untuk dapat mengenal jenis-jenis batuan sebagai bahan yang membentuk litosfir ini, adalah dengan cara mengenal mineral-mineral yang membentuk batuan tersebut. Dengan anggapan bahwa pengguna buku ini telah mengenal dan memahami “mineralogi”, maka untuk selanjutnya akan diulas secara garis besar tentang mineral sebagai penyegaran saja.


1.1 Sifat Fisik Mineral 


Terdapat dua cara untuk dapat mengenal suatu mineral, yang pertama adalah dengan cara mengenal sifat fisiknya. Yang termasuk dalam sifat fisik mineral adalah (a) bentuk kristalnya, (b) berat jenis, (c) bidang belah, (d) warna, (e) kekerasan, (f) goresan, dan (g) kilap. Adapun cara yang kedua adalah melalui analisa kimiawi atau analisa difraksi sinar X, cara ini pada umumnya sangat mahal dan memakan waktu yang lama. 

Berikut ini adalah sifat-sifat fisik mineral yang dapat dipakai untuk mengenal mineral secara cepat, yaitu:


a. Bentuk kristal (crystall form): Apabila suatu mineral mendapat kesempatan untuk berkembang tanpa mendapat hambatan, maka ia akan mempunyai bentuk kristalnya yang khas. Tetapi apabila dalam perkembangannya ia mendapat hambatan, maka bentuk kristalnya juga akan terganggu. Setiap mineral akan mempunyai sifat bentuk kristalnya yang khas, yang merupakan perwujudan kenampakan luar, yang terjadi sebagai akibat dari susunan kristalnya didalam. Bentuk bentuk kristal antara lain adalah (gambar 3.1): Triklin, Monoklin, Tetragonal, Orthorombik, Hexagonal, Kubik, Trigonal dll. 
Untuk dapat memberikan gambaran bagaimana suatu bahan padat yang terdiri dari mineral dengan bentuk kristalnya yang khas dapat terjadi, kita contohkan suatu cairan panas yang terdiri dari unsur-unsur Natrium dan Chlorit. Selama suhunya tetap dalam keadaan tinggi, maka ion-ion tetap akan bergerak bebas dan tidak terikat satu dengan lainnya. Namun begitu suhu cairan tersebut turun, maka kebebasan bergeraknya akan berkurang dan hilang, selanjutnya mereka mulai terikat dan berkelompok untuk membentuk persenyawaan “Natrium Chlorida”.

Dengan semakin menurunnya suhu serta cairan mulai mendingin, kelompok tersebut semakin tumbuh membesar dan membentuk mineral “Halit” yang padat. Mineral “kuarsa”, dapat kita jumpai hampir disemua batuan, namun umumnya pertumbuhannya terbatas. Meskipun demikian, bentuknya yang tidak teratur tersebut masih tetap dapat memperlihatkan susunan ion-ionnya yang ditentukan oleh struktur kristalnya yang khas, yaitu bentuknya yang berupa prisma bersisi enam. Tidak perduli apakah ukurannya sangat kecil atau besar karena pertumbuhannya yang sempurna, bagian dari prisma segi enam dan besarnya sudut antara bidang-bidangnya akan tetap dapat dikenali. Kristal mineral intan, dapat dikenali dari bentuknya yang segi-delapan atau “oktahedron” dan mineral grafit dengan segi-enamnya yang pipih, meskipun keduanya mempunyai susunan kimiawi yang sama, yaiut keduanya terdiri dari unsur Karbon (C). Perbedaan bentuk kristal tersebut terjadi karena susunan atom karbonnya yang berbeda.

b. Berat jenis (specific gravity): Setiap mineral mempunyai berat jenis tertentu. Besarnya ditentukan oleh unsur-unsur pembentuknya serta kepadatan dari ikatan unsur-unsur tersebut dalam susunan kristalnya. Umumnya “mineral-mineral pembentuk batuan”, mempunyai berat jenis sekitar 2.7, meskipun berat jenis rata-rata unsur metal didalamnya berkisar antara 5. Emas murni umpamanya, mempunyai berat jenis 19.3.


  c. Bidang belah (fracture): Mineral mempunyai kecenderungan untuk pecah melalui suatu bidang yang mempunyai arah tertentu. Arah tersebut ditentukan oleh susunan dalam dari atom-atomnya. Dapat dikatakan bahwa bidang tersebut merupakan bidang “lemah” yang dimiliki oleh suatu mineral.

 d. Warna (color): Warna mineral memang bukan merupakan penciri utama untuk dapat membedakan antara mineral yang satu dengan lainnya. Namun paling tidak ada warna-warna yang khas yang dapat digunakan untuk mengenali adanya unsur tertentu didalamnya. Sebagai contoh warna gelap dipunyai mineral, mengindikasikan terdapatnya unsur besi. Disisi lain mineral dengan warna terang, diindikasikan banyak mengandung aluminium.


 e. Kekarasan (hardness): Salah satu kegunaan dalam mendiagnosa sifat mineral adalah dengan mengetahui kekerasan mineral. Kekerasan adalah sifat resistensi dari suatu mineral terhadap kemudahan mengalami abrasi (abrasive) atau mudah tergores (scratching). Kekerasan suatu mineral bersifat relatif, artinya apabila dua mineral saling digoreskan satu dengan lainnya, maka mineral yang tergores adalah mineral yang relatif lebih lunak dibandingkan dengan mineral lawannya. Skala kekerasan mineral mulai dari yang terlunak (skala 1) hingga yang terkeras (skala 10) diajukan oleh Mohs dan dikenal sebagai Skala Kekerasan Mohs.  
f. Goresan pada bidang (streak): Beberapa jenis mineral mempunyai goresan pada bidangnya, seperti pada mineral kuarsa dan pyrit, yang sangat jelas dan khas.

g. Kilap (luster): Kilap adalah kenampakan atau kualitas pantulan cahaya dari permukaan suatu mineral. Kilap pada mineral ada 2 (dua) jenis, yaitu Kilap Logam dan Kilap Non-Logam. Kilap Non-logam antara lain, yaitu: kilap mutiara, kilap gelas, kilap sutera, kelap resin, dan kilap tanah.


Sifat Kimiawi Mineral

Berdasarkan senyawa kimiawinya, mineral dapat dikelompokkan menjadi mineral Silikat dan mineral Non-silikat. Terdapat 8 (delapan) kelompok mineral Non-silikat, yaitu kelompok Oksida, Sulfida, Sulfat, Native elemen, Halid, Karbonat, Hidroksida, dan Phospat (lihat tabel 3.3). Adapun mineral silikat (mengandung unsur SiO) yang umum dijumpai dalam batuan adalah seperti terlihat pada tabel 3.2. Di depan telah dikemukakan bahwa tidak kurang dari 2000 jenis mineral yang dikenal hingga sekarang. Namun ternyata hanya beberapa jenis saja yang terlibat dalam pembentukan batuan. Mineral-mineral tersebut dinamakan “Mineral pembentuk batuan”, atau “Rock-forming minerals”, yang merupakan penyusun utama batuan dari kerak dan mantel Bumi. Mineral pembentuk batuan dikelompokan menjadi empat: Silikat, Oksida, Sulfida dan Karbonat dan Sulfat.

ini merupakan beberapa contoh dari mineral Beku :




Jumat, 22 Januari 2010

SIMULASI DAN KOMPUTASI TAMBANG

SIMULASI DAN KOMPUTASI TAMBANG,

tempat penimbunan

Tempat penimbunan dibagi menjadi dua, yaitu waste dump dan stockpile. Waste dump adalah suatu lokasi untuk pembuangan material berkadar rendah dan atau material bukan bijih yang harus digali dari pit untuk memperoleh bijih (material kadar tinggi) dalam suatu operasi tambang terbuka. Sedangkan stockpile digunakan untuk menyimpan material yang akan digunakan pada saat yang akan datang, tanah penutup atau pucuk yang dapat digunakan untuk reklamasi.

Pada umunya luas daerah yang diperlukan untuk waste dump adalah dua sampai 3 kali lipat daerah penambangan (pit). Hal ini disebabkan oleh:
1.Material yang telah dibongkar (loose material) berkembang 30-45% dibandingkan dengan material insitu.
2.Sudut kemiringan untuk setiap dump umumnya lebih landai dari pit.
3.Material pada umumnya tidak dapat ditumbun setinggi kedalaman dari pit.

Jenis dump dibedakan menjadi dua yaitu
Valley fill atau crest dumps.
Dapat diterapkan di daerah yang mempunyai topografi curam.
Elevasi puncak (dump crest) ditetapkan pada awal pembuatan dump.
Dump dibangun berdasarkan angle of repose.
Dumping akan mulai pada kaki dari dump final sehingga pada awal proyek jarak pengangkutan truk lebih panjang.
Pemadatan diperlukan untuk memenuhi persyaratan reklamasi.

Terraced dump yaitu timbunan yang dirancang ke atas.
Dapat diterapkan jika topografi tidak begitu curam pada lokasi timbunan.
Timbunan dirancang dari bawah ke atas. Tinggi tiap lift biasanya 20-40m.
Lift-lift berikutnya terletak dibelakang sehingga sudut keseluruhan (overall slope angle) mendekati yang dibutuhkan untuk reklamasi.

Pemilihan lokasi waste dump tergantung pada beberapa faktor yaitu :
Lokasi dan ukuran pit sebagai fungsi waktu
Topografi
Volume waste rock sebagai fungsi waktu
Batas konsesi pertambangan
Jalur penirisan yang ada
Persyaratan reklamasi
Kondisi pondasi
Peralatan penanganan material
Selama rancangan detil dapat dipertimbangkan beberapa lokasi yang berbeda untuk perbandingan faktor ekonomik

Kamis, 03 Desember 2009

Pengenalan dasar Alat -alat berat

ini ada sedikit penjelasan tentang alat-alat berat di pertambangan.
Dalam pekerjaan pertambangan di tuntut untuk menyelesaikan dengan cepat. Untuk itu perlu mempertimbangkan penggunaan alat-alat yang sesuai dengan kondisi pekerjaan yang bersangkutan. Hal ini tidak dapat kita hindari, mengingat pemanfaatan tenaga manusia secara manual dengan alat-alat konvensional sudah tidak efisien lagi.
Dalam buku ini penyusun mencoba memberikan pengertian dasar mengenai hal-hal yang berkaitan dengan alat berat, terutama pada pelaksanaan pekerjaan yang berhubungan dengan pemindahan tanah. Beberapa hal yang di uraikan tentang pengertian dasar alat-alat dan pengenalan sifat-sifat tanah sehubungan dengan pekerjaan-pekerjaan pemindahan tanah secara mekanis.
PENGENALAN DASAR ALAT
Faktor-faktor yang menentukan dalam penggunaan alat berat adalah:
Tenaga yang dibutuhkan (Power reguired)
Tenaga yang tersedia (Power available)
Tenaga yang dapat dimanfaatkan (Power usable)
Hubungan antara tenaga yang dibutuhkan, tenaga tersedia dan tenaga yang dapat dimanfaatkan adalah sangat penting diketahui, karena kita dapat menentukan beberapat kapasitas alat yang harus kita pilih untuk sesuatu pekerjaan yang dilaksanakan.
Beberapa hal yang mempengaruhi besarnya tenaga yang dapat dimanfaatkan dari alat berat di uraikan sebagai berikut :
Kesampaian Daerah (Accessibility)
Yaitu prasarana yang dipunyai pada daerah kerja. Apakah mudah dalam pengiriman alat-alat berat (peralatan mekanis). Seandainya tidak ada jalan yang tidak bisa ditempuh maka harus di buat terlebih dahulu dan ini akan akan berpengaruh terhdap biaya pemilikan alat (cost of ownership) dan biaya operasi (operating cost) dari peralatan mekanis tersebut.
Bila di daerah kerja terdapat sarana jalan, perlu diketahui terlebih dahulu kelas jalan, apakah jalan desa, atau jalan provinsi. Hal ini untuk menjaga daya dukung jalan sesuai dengan dipersyratkan untuk membawa alat mekanis ke daerah kerja.
Keadaan Tumbuhan (Vegetatian)
Keadaan pohon yang tumbuh pada medan kerja perlu diketahui, baik itu diameter pohon, jumlah poho, ketinggian rata-rata dan macam-macam pohon. Hal ini untuk mempertimbangkan pembukaan lahan medan kerja. Sehingga dapat ditentukan peralatan yang akan digunakan pembabatan pohon tersebut.


Cuaca (Climatic condition)
Pengaruh cuaca pada suatu daerah kerja perlu diketahui. Karena akan diperkirakan selama dalam satu tahun berlangsung hujan selama berapa hari. Pada waktu hujan penggunaan peralatan mekanis tidak dapat bekerja efektif bahkan tidak dapat digunakan sama sekali.
Ketinggian dan Temperatur (Altitude and Temperatur)
Ketinggian (Altitude)
Yang di maksudkan adalah lokasi/tempat kerja alat terhadap permukaan laut. Harus diketahui bahwa tempat kerja akan berpengaruh terhadap kinerja suatu alat. Makin tinggi suatu tempat kerja dari permukaan laut (pal-sea level), tekanan atmosfirnya semakin menurun. Karena tekanan atmosfir menurun maka kerapatan udaranya juga menurun, yang berakibat jumlah oksigen di tempat kerja tersebut juga berkurang. Hal ini akan berakibat menurunya power untuk mesin-mesin motor bakar “IC engine” (Internal Combustion Engine).
Untuk mengatasi masalah tersebut, alat-alat berat/berat yang digunakan harus dilakukan pengoreksian terhadap daya kuda (HP- Horse Power) dari alat berat tersebut. Untuk mesin 4 tak (Four Cycle Engine) akan menurun sebesar 3% dari Hp (horse power) pada permukaan air laut (sea level) setiap di pakai pada suatu daerah kerja dengan ketinggian 1000 ft pertama.
Untuk memperkecil adanya pengurangan tenaga/power (HP), maka pada mesin dilengkapi dengan “turbocharger” yang berfungsi memasok kebutuhan udara untuk mesin-mesin tersebut. Bila mesin menggunakan turbocharger maka koreksi terhadap Horse Power, Draw bar pull: DBP atau rimpul dilakukan apabila mesin dipergunakan pada suatu tempat yang mempunyai ketinggian lebih dari 5000 ft diatas pal (Permukaan Air laut).
Contoh :
Traktor roda ban (wheel tractor) 100 HP pada pal (permukaan air laut) bermesin 4 tak dilengkapi dengan “turbocharger”. Berapakah koreksi HP, Bila wheel tractor” tersebut di pakai pada ketinggian 15000 ft?
Jawab :
Koreksi HP pada 15000 ft=100 HP- (15000-5000)/1000 x 3% x 100 HP
= 100 HP-30 HP=70 HP

“taktor” bermesin 4 tak, pada gear pertama dapat menyediakan 30000 lb “draw bar pull” (DBP) pada pal (permukaan air laut). Berapakah DBP pada gear pertama apabila traktor tersebut dipergunakan pada satu medan kerja dengan elevasi 10000 ft di atas pal (permukaan air laut)?
Jawab :
DBP pada 10000 ft=30000 lb- (10000-1000)/1000 x 3% x 30000 lb
=30000 lb-8100 lb
=21900 lb

Temperatur (Temperatur)
Naiknya temperatur udara dapat menyebabkan efisiensi mesin menurun (engine efficiency). Bila temeperatur udara naik maka kerapatan (density) udara akan turun, hal ini menyebabkan mengecilnya jumlah oksigen yang berada pada setiap volume udara dan akan mengakibatkan efisiensi akan menurun.
Horse power (HP) mesin berubah-ubah sesuai dengan keadaan temperatur udara dan tekanan udara setempat. Horse power (HP) yang standar di dasarkan pada temperatur dan tekanan udara standar.
Pengaruh berkurangnya tenaga mesin akibat temperatur ini adalah: tenaga mesin berkurang sebesar 1% untuk tiap suhu udara naik 10o F diatas temperatur standar 60o F, atau tenaga mesin bertambah 1 % bila suhu udara turun tiap 10o F dibawah temperature standar 60o F.
Dengan demikian bahwa apabila alat berat digunakan pada daerah yang temperature dan tekanan udara berbeda dari standar maka HP mesin tersebut perlu dilakukan koreksi. Adapun rumus yang digunakan adalah:
Jalan angkut, kemiringan dan jarak (Haul road, grade and distance)
Keadaan jalan, jarak, kemiringan jalan dan daya dukung jalan akan sangat mempengaruhi kemampuan produksi alat angkut.
Jalan Angkut (Houl Road)
Jalan angkut ini harus dilihat keberadaannya, apakah becek ataukah kuat, atau cukup kasar permukaannya. Ini semua perlu di tinjau, karena keadaan jalan angkutan akan mempengaruhi besar kecilnya rolling resistance (RR) yang ditimbulkan oleh permukaan jalan angkut roda /ban peralatan pemindahan mekanis.
Kemiringan (Grade)
Grad adalah tanjakan dari jalan angkut, kelandaian atau kecuramannya sangat mempengaruhi produksi (output) alat angkut, sebap adanya kemiringan jalan (grade) menimbulkan tahanan tanjakan (grade rasistance) yang harus diatasi oleh mesin alat angkut.
Jarak Angkut (Distance)
Jarak angkut juga harus di pertimbangkan dalam menentukan kecepatan laju alat angkut tersebut. Kecepatan laju alat angkut makin cepat,maka produksi (output) alat angkut juga semakin besar dan ini bergantung pada gaya tarik (Rimpull-RP)yang tersedia pada mesin. Sedangkan gaya tarik (RP) besarnya di tentukan oleh adanya tahanan glinding (rolling resistance - RR) dan tahanan tanjakan (grade rasistance – GR) makin besar RP yang tersedia pada mesin maka kecepatan laju alat angkut juga makin cepat, sehingga produksi (output) alat angkut semakin besar.kecepatan laju alat angkut di samping ditentukan oleh gaya tarik (RP)pada mesin, juga di batasi oleh panjang maupun pendeknya jarak jalan angkut.
Siklus Produksi (Production cycle component)
Pada pemindahan tanah mekanis siklus produksi dapat meliputi:
Pemuatan (loading)
Pengangkutan (Hauling)
Penimbunan (Dumping)
Kembali (Return)
Menempatkan diri ( Spot)
Pemuatan (Loading)
Merupakan proses pemuatan material hasil galian oleh alat muat-loading equipment (Power shovel,back hoe drag line) yang di muatkan pada alat angkut (hauling equipment). Ukuran dan tipe dari alat muat yang dipakai harus sesuai dengan kondisi lapangan dan keadaan alat angkutnya. Yang berpengaru terhadap produksi (output) alat muat (loading equipment) adalah :
Jenis / tipe dan kondisi alat muat (termasuk kapasitasnya)
Jenis/ macam material yang akan dikerjakan
Kapasitas dari alat angkut (hauling equipment)
Pola muat
Skil dari operatornya
Pengangkut (hauling)
Merupakan pekerjaan pengangkutan material. Produksi (output ) dari pekerjaan pengangkutan ini dipengaruhi oleh:
Kondisi jalan angkutan nya
Banyak /tidak nya tanjakan
Kemampuan pengemudi
Dan hal-hal lain yang berpengaruh terhadap kecepatan dari alat angkut (hauling equipment)

Penimbunan (Dumping)
Merupakan pekerjaan penimbun material. Pekerjaan penimbunan dipengaruhi oleh kondisi tempat penimbunan, mudah atau tidaknya maneuver alat angkut tersebutselama melakukan penimbunan, dan ini dipengaruhi dan ini dipengaruhi oleh :
Cara melakukan penimbunan (side dump,rear dump atau bottom dump)
Kondisi dari material yang akan di tumpahkan (fragmentasi dan kelengketannya).
Kembali (Retrun)
Merupakan pekerjaan dari alat-alat angkut untuk kembali lagi ke tempat pemuatan setelah menumpahkan muatan pada dumping site (Tempat penimbunan). Jadi waktu untuk kembali (retrun time) juga dipengaruhi oleh hal-hal yang sama dengan waktu untuk mengangkut (hauling time).
Penempatan diri (spot)
Merupakan penempatan diri dari alat angkut (haulage unit). Cara dan mudah tidaknya haulage unit (missal truck) menempatkan diri untuk dimuati oleh alat muat (loading equipment), ditentukan oleh:
Jenis alat muat (loading machine)
Lokasi atau posisi alat muat (Loading equipment).

Kamis, 26 November 2009


Bulldozer ( bulldozer dan angledozer ) dapat dibagi menjadi 2 :
* Crawler tractormounted bulldozer.
* Wheeltractor mounted bulldozer.

Menurut cara menaikkan dan menurunkan blade-nya, bulldozer diklasifikasikan sebagai:
1. Cable controlled
2. Hydroulic controlled

Keuntungan dari cable controlled :
1.Sederhana dalam pemasangan dan operasi
2.Sederhana dalam perbaikan
3.Mengurangi bahaya kerusakan mesin karena blade dapat digerakkan keatas dan melampaui rintangan yang kaku.

Keuntungan dari hydroulic controlled :
1.Kemampuan untuk mengahasilkan tekanan yang tinggi pada bagian bawah blade, sebagai tambahan pada beratnya untuk memaksa blade menembus tanah.
2.Kemampuan untuk menjaga penempatan posisi blade yang lebih tepat.
Bulldozer disebut sebagai alat yang cakap pada pelbagai pekerjaan, dapat digunakan sejak awal hingga akhir pekerjaan, yaitu :
3.Pembersihan ( clearing ) tanah/daerah dari kayu dan tanggul
4.Membuat pias jalan melalui pegunungan dan medan berbatu
5.Memindahkan tanah sejauh kira-kira 100 m
6.Membantu memuati scraper
7.Menyebarkan tanah
8.Menimbum lubang-lubang galian
9.Membersihkan site dari sampah
10.Memelihara jalan pengangkutan
11.Membersihkan tempat-tempat sumber tanah dan lahan

Bulldozer dilengkapi dengan blade tegak lurus pada arah perjalanan dan angledozer dilengkapi dengan blade yang dipasang tidak tegak lurus pada arah perjalanan. Bulldozer mendorong tanah kedepan sedangkan angledozer mendorong tanah kedepan dan ke satu sisi.
Beberapa jenis blade dapat distel untuk memungkinkan penggunaannya sebagai bulldozer atau angledozer.
Ukuran bulldozer dinyatakan/ditandai oleh panjang dan tinggi dari blade.

Crawler mounted dan wheel mounted bulldozer
Pada mulanya bulldozer hanya dipasang ( mounted ) pada crawler tractor, tetapi dengan berkembangnya sheel tractor maka bulldozer juga dipasang pada wheel tractor.








Keuntungan Crawler-mounted bulldozer ( rantai ) :
1.Kemampuan memberikan daya tarik yang lebih besar, terutama pada operasi di tanah lunak seperti tanah lepas atau berlumpur.
2.kemampuan untuk bergerak diatas permukaan berlumpur.
3.kemampuan untuk beroperasi di daerah berbatu dimana roda karet dapat rusak.
4.kemampuan untuk bergerak diatas permukaan kasar, yang dapat mengurangi biaya pemeliharaan jalan angkutan.
5.lebih dangkal masuk ke tanah lunak, karena tekanan yang lebih rendah pada track.
6.penggunaan yang lebih besar pada berbagai pekerjaan.

Keuntungan wheel- mounted bulldozer ( karet ) :
1.kecepatan gerak lebih tinggi.
2.tidak membutuhkan alat angkutan untuk mentransport bulldozer ke lokasi pekerjaan.
3.Outputnya lebih besar, terutama jika faktor bergerak diperlukan.
4.Kelelahan operator kurang.
5.kemampuan untuk bergerak pada jalan beraspal tanpa menimbulkan kerusakan permukaan.

Jika pemakaian alat mempunyai pekerjaan yang cukup besar sehingga perlu membeli alat-alat khusus, maka harus memilih alat yang paling tepat untuk pekerjaan tersebut. Akan tetapi bila pekerjaan hanya kecil saja, tetapi perlu membeli alat khusus, dianjurkan memilih alat yang dapat digunakan juga pada pekerjaan lain. Dalam hal ini pemilihan alat yang cakap untuk perbagai macam pekerjaan merupakan tindakan yang bijaksana.

Pada penggunaan bulldozer, hal yang penting ialah mengenai blade-nya
1.Straight blade/ S blade
Penggunaan : pioneering, penggalian struktur dan penimbunan, mendorong material kohesif pada jarak pendek dan menengah. Dengan memiringkan blade, ujungnya baik untuk menggali tanah keras dan membongkar.
2.Angle blade/ A blade
Lebih panjang 30 – 60 cm dan lebih berat dari S blade, tetapi potongan melintangnya lebih tipis. Penggunaan : mendorong kesamping
3.Universal blade / U blade
Kokoh seperti S blade, punya sayap di ujung blade yang dapat dibengkokkan sampai 25° untuk mengurangi ceceran pada saat mendorong material lepas.
Penggunaan : mendorong tanah non-kohesif, pioneering dan land clearing.
4.Chushion blade / C blade
Lebih pendek dari S blade, lebih berfungsi sebagai alat pembantu daripada sebagai alat untuk berproduksi.
5.Special blade : blade yang dibuat untuk tujuan khusus.

Macam-macam gerakan blade.
a.Tilting, gerakan memiringkan blade pada bidangnya.
b.Pitching, gerakan blade ke depan dan ke belakang, menggangguk.
c.ngling, gerakan blade dengan membuat sudut terhadap arah gerak.




Penggunaan Bulldozer
1.Membersihkan daerah/ land clearing
Bulldozer digunakan secara extensive pada pekerjaan pembersihan daerah/tanah. Jika pohon-pohon tidak terlalu besar, blade dozer diturunkan tepat dibawah permukaan tanah, dan dengan menggerakkan traktor ke depan, semak-semak dan kayu akan terdorong kedepan. Blade dozer khusus yang dilengkapi dengan gigi yang mengarah ke bawah dapt digunakan untuk mencegah terangkatnya topsoil.
Jika pohon-pohonnya besar, perlu meningkatkan pengungkitan dengan mengangkat blade setinggi-tingginya untuk mendorong roboh pohon-pohon tersebut.
Jika usaha ini tidak memungkinkan, perlu untuk menurunkan satu sisi danri blade dan menggali cukup dalam seputar pohon untuk memotong akar-akar horisontal, lalu pohon didorong roboh.
Metode lain dari pembersihan tanah, jika tidak perlu memindahkan semak belukar pada operasi pertama, ialah dengan mengikatkan ujung-ujung tali pada traktor yang besar dan menariknya melalui pohon. Umumnya tali akan menarik pohon beserta akar-akarnya keatas tapi kadang-kadang juga memotong pohon.
Tali yang dipakai berukuran 1,25 sampai 2 inch.
Jika disyaratkan tali tidak mengenai tanah, bola baja kosong kira-kira berdiameter 8 ft dapat dihubungkan dengan tali pada titik tengahnya.
Jika traktor tidak mempunyai daya tarik yang cukup untuk menarik tali, traktor dapat diikat ke pohon besar dan tali ditarik dengan derek.
Sesudah pohon-pohon dirobohkan, lalu ditumpuk dan dibakar. Jika tali tidak merobohkan semua pohon-pohon kecil dan semak belukar, perlu menyelesaikan permbersihan dengan bulldozer konvensional atau alat lain.


Senin, 12 Oktober 2009

Kristalografi

Kegiatan belajar 1

Pokok Bahasan : KONSEP KRISTALOGRAFI

Konsep kistalografi, adalah cabang ilmu pengetahuan mineralogi yang mempelajari secara sistimatik dan praktis khususnya tentang bentuk struktur intenal Kristal ikatan unsur kimia anorganik pembentuk kisi-kistal (“ crystal lattice”) dan mempelajari secara sisitimatik dan peraktis khususnya tentang bentukan wujud struktur eksternal Kristal morfologi suatu mineral berupa benda padat homogen ,dapat sebagai benda endapan bahan galian yang terjadi dan terdapat secara alami pada kondisi tekanan,temperature dan pada posisi kedalaman tertentu di kerak bumi dan di permukan bumi.

1. Tujuan Khusus Pembelajaran

1. mengetahui tentang pengertian istilah atom,representative element,octet rule.
2. mengetahui tentang konsep struktur internal Kristal dan barvais space lattice.
3. mengetahui dan memahami tentang sistem Kristal dan kelas Kristal.

B.1 Sub pokok bahasan : geometri dan dimensi internal Kristal

B.1.1 Uraian ringkas tentang atom

Suatu bentuk struktur internal ikatan unsur kimia Kristal,adalah digambarkan secara abstrak sbagai hasil proses ikatan kimia kimia dalam ikatan ion (NaCl) dari unsur kimia anorganik yang mempunyai energi berinteraksi saling bereaksi melalui ikatan struktur atom nucleous dan elektron.

Atom adalah bagian sangat kecil suatu benda,terdiri dari partikel sub atom,yang disebut neutron bersifat netral,proton bermuatan positif dan elekron bermuatan negative, yang mempunyai perbandingan suatu ukuran besaran “amu” (untit masa atom,1 amu = 1.6603 x 10gram) yaitu 1 : 1 : 1/1837.

Neutron mempunyai berat = 1,68 x 10gram

Proton mempunyai berat = 1,67 x 10gram

Elektron mempunyai berat = 9,10 x 10gram

Suatu atom dengan nomor urut atom yang sama tetapi mempunyai berat masa atom yang berbeda, maka atom tersebut mempunyai isotop.

Contoh isotop (H) mempunyai nomor atom 1, tetapi mempunyai berat atom 1 dan 2

Konfigurasi elektron atom suatu unsur kimia adalah berperan penting dalam proses reaksi dan interaksi ikatan kimia yang membentuk suatu molekul benda padat,cair,atau gas.Ikatan kimia pembentuk benda padat bersifat amorf atau dapat berstruktur internal Kristal.

Ikatan kimia suatu unsur atom pada hakekatnya adalah hasil ikatan energi yang berasal dari interaksi nukcleous atom yang satu dengan dengan elektron atom lainnya,yang disebut “octet rule”,yaitu bahwa interaksi reaksi kimia atom bertendensi untuk membentuk sejumlah 8 (delapan) elektron pada “electron_shell”terluar dikenal ikatan kimia kovalen dan ikatan ionic

Contoh ikatan kimia ionik yaitu NaCl membentuk benda padat.

B.1.2 uraian tentang kisi kirtal bravais

“Bravais space lattice” (kisi ruang Kristal Bravais),adalah bentuk geometri 3(tiga) dimensi struktur internal Kristal yang tersusun oleh unit-cell dari ikatan struktur atom unsur kimia tersebut.

Bentuk kisi ruang ruang Kristal bravais mempunyai variasi posisi unit cell yang ditentukan berdasarkan keberadaan titik-titik kisi bidang Kristal. Dikenal yaitu 4(empat) variasi posisi titik Kristal (“lattice points”),yaitu:

- titik kisi Kristal pada ujung bidang,disebut titik sisi kirstal primitive,bersimbol P.

- titik kisi Kristal pada bagian tengah bidang kisi Kristal, disebut “face center” simbol F.

- titik kisi Kristal pada bagian tengah ruang Kristal, disebut “body center” simbol I.

- titik kisi Kristal pada bagian tengah sebagian bidang kisi Kristal, disebut “center”,C.

Ø bentuk struktur internal Kristal isometrik, yaitu jarak antara titik kisi Kristal adalah sama, kisi Kristal membentuk sudut orthogonal ; mempunyai 3 (tiga) variable posisi titik kisi Kristal, yaitu simbol P , I , dan F, dengan unsur-unsur Kristal yaitu a=b=c;.

Ø Bentuk struktur internal heksagonal,yaitu jarak antar titik Kristal pada bidang horizontal adalah sama, namun tidak sama dengan jarak titik Kristal pada bidang Vertikal, horizontal kisi Kristal membentuk sudut ortogonal, sedangkan antar 6 (enam) bidang tegak membentuk posisi sudut 120 ; mempunyai 2 (dua) variabel posisi titik Kristal,yaitu bersimbol C , P, dengan unsure-unsur Kristal yaitu a=b#c; , .

Ø Bentuk struktur internal kristal rhombohedral, yaitu jarak antar titik kisi Kristal adalah sama,memiliki sudut potong antar bidang kisi Kristal membentuk sudut nonortogonal ; mempunyai 1 (satu) variabel posisi titik kisi Kristal, yaitu bersimbol P, dengan unsur-unsur Kristal yaitu a=b=c ; .

Ø Bentuk struktur internal Kristal tetragonal, yaitu jarak titik kisi Kristal pada bidang horizontal adalah sama , namun tidak sama dengan jarak titik kisi Kristal pada posisi vertical, dan membentuk sudut ortogonal ; mempunyai 2(dua) variabel posisi titik kisi Kristal,yaitu P dan I, dengan unsur-unsur Kristal yaitu a=b#c ; .

Ø Bentuk struktur internal Kristal orthoromblik, jarak antar kisi Kristal adalah tidak sama, dengan sudut potong antar bidang kisi Kristal membentuk sudut ortogonal ; mempunyai 4 (empat) variabel posisi titik kisi Kristal, yaitu bersimbol P , C ,I dan F, dengan unsur-unsur Kristal yaitu a#b#c ; .

Ø Bentuk struktur internal Kristal monoklin , yang dicirikan bahwa jarak antar titik kisi Kristal adalah tidak sama, dengan posisi 2(dua) sudut potong antar bidang kisi Kristal membentuk sudut ortogonal, sedangkan 1 (satu) sudut bidang kisi Kristal, yaitu bersimbol P dan C, dengan unsur-unsur Kristal yaitu a#b#c ; .

Ø Bentuk struktur internal Kristal triklin, jarak antara titik kisi Kristal adalah tidak sama,serta

Ø memotong antar bidang kisi Kristal membentuk sudut nonortogonal ; mempunyai 1 (satu) variabel posisi titik kisi Kristal, yaitu bersimbol P, dengan unsur-unsur Kristal yaitu a#b#c ; .

B.2 sub pokok bahasan : geometri dan dimensi eksternal Kristal

B.2.1 Uraian ringkasan tentang eksternal Kristal

Suatu bentuk kubus dari sisitem internal isometrik kisi Kristal,dapat tumbuh beraturan menjadi lima macam bentuk bentuk eksternal Kristal, yaitu menjadi bentuk kubus hexahedron, tabular, prisma-batang, octahedron dan rombik-dodecahedron.

Adapun berkaitan dengan konsep dasar struktur internal Kristal “Bravais Spance Lattice, maka dikenal bentukan geometri tiga dimensi enam jenis sisitem eksternal Kristal mineral, yaitu isometrik, heksagonal,tetragonal orthorombik, monoklin dan triklin.

32 jenis Kristal yaitu:

Sistem kristal


32 kelas kristal

Isometric


Hexoctahedral,gyroidal,hexterahedral,diploidal,tetartoidal

hexagonal


Dihexagonal-dipyramidal, hexagonal-trapezoidal,dihexagonal-pyramidal, ditrigonal-dipyramidal, hexagonal-dipyramidal, hexagonal-pyramidal, trigonal-dipyramidal(“hexagonal division”); hexagonal-scelennohedral, tetragonal-trapezohedral,ditrigonal-pyramidal,rhombohedral,trigonal-pyramidal (“hexagonal-rhombohedral”).

tetragonal


Ditetragonal-dipyramidal, tetragonal-trapezohedral, ditetragonal-pyramidal, tetragonal-scalenohedral,tetragonal-dipyramidal,tetragonal-pyramidal, tetragonal-disphenoidal.

orthorombic


Rhombic-dipyramidal, rhombic-disphenoidal,rhombic pyramidal.

monoclinic


Prismatic, sphenoidal, domanic

triclinic


Pinacoidal, pedial.

Suatu morfologi eksternal Kristal mempunyai cirri bentuk tertentu yaitu “open forms” dan “closed form”.

“Open forms” (bentuk terbuka) adalah dicirikan bentuk prisma dan piramida sedangkan “closed form” (bentuk tertutup) yaitu dicirikan bentukan piramida, trapezohedran dan scalenohedran.

Bentukan Kristal mempunyai ciri-ciri nama hubungan bidang Kristal dan jumlah bidang Kristal yang berkaitan dengan nama kelas Kristal, yaitu sebagai berikut:

v Pedion, bentuk Kristal mewakili satu bidang Kristal saja yang menyatakan bahwa tidak ada bidang Kristal yang saling sejajar,contoh yaitu pedial triklin.

v Pinacoidal, bentuk yang dibatasi oleh dua bidang Kristal yang parallel, contoh yaitu pinacoidal triklin.

v Dome, bentuk Kristal yang dibatasi oleh dua bidang Kristal simetri yang berpotongan.

v Sphenoidal , bentuk Kristal yang dibatasi oleh dua bidang Kristal tidak simetri yang berpotongan.

v Sphenoidal, bentuk Kristal yang dibatasi dua bidang sphenoidal tertutup.

v Prisma bentuk Kristal terbuka mempunyai bidang Kristal yang saling sejajr,dengan jumlah bidang yaitu 3,4,6,8,12 pada suatu sumbu vertical yang sama.

v piramid,bentuk Kristal terbuka,mempunyai bidang segitiga saling berpotongan dibatasi oleh bidang bidang horizontal,dengan jumlah bidang yaitu 3,4,6,8,12, dengan satu sumbu Kristal yang sama.

v Scalenohedron,bentuk Kristal tertutup,terdiri dari dari 8 (tetragonal scalenohedron) atau 12 (hexagonal scalenohedron) bidang segitiga saling berpotongan.

v Trapezohedran, bentuk Kristal tertutup,terdiri dari 6 (trigonal trapezohedraon),8 (tetragonal trapezohedron) dan 12 (hexagonal trapezohedron) bidang trapezium yang saling berpotongan ; 24 bidang trapesium berpotongan (cube trapezohedron).

v Dipiramid,bentuk Kristal tertutup,terdiri dari 6 (trigonal dipyramid), 8 (tetragonal dipyramid),12 (hexagonal dipyramid),16 (ditetragonal dipyramid), 24 (dihexagonal dipyramid), bidang segitiga simetri / refleksi yang saling berpotongan dibatasi oleh bidang horizontal

v Rhombohedron, bentuk Kristal tertutup terdiri 6 bidang Kristal yang saling berpotongan dengan posisi tidak ortogonal.

B.2.2 Uraian-uraian eksternal Kristal

Unsur- unsur eksternal Kristal :

- notasi bidang Kristal

- simetri Kristal

- proyeksi bidang Kristal

- trigonometri bidang Kristal

1. Notasi Bidang Kristal antara lain :

ü Bidang krtistal hanya memotong satu sumbu serta sejajar terhadap sumbu lainnya,notasinya yaitu : (100)paralel sumbu a,b ; (010) parallel sumbu a,c ; (001) parallel a,b

ü Bidang Kristal memotong dua sumbu dan sejajar terhadap sumbu lainya notasinya : (110)memotong sumbu a,b, paralel c ; (011) memotong sumbu b,c, paralel a ; (101) memotong sumbu a,c, paralel b.

ü Bidang Kristal memotong tiga sumbu (a,b,c), maka notasinya (111)

Posisi kedudukan bidang Kristal tersebut di atas dikenal dengan nama indices miller. Adapun angka-angka tersebut diatas adalah beraasal dari parameter ratio sumbu kisi Kristal hasil ukuran dimensi jarak berdasarkan struktur susunan atom “unit cell”.

Selain symbol indices miller dikenal untuk posisi kedudukan bidang Kristal terhadap sumbu Kristal a, b,c, yaitu bersimbol (hkl)untuk tiga sumbu sebagai berikut:

- bila bidang Kristal hanya memotong satu sumbu,serta sejajar terhadap dua sumbu lainya, maka bersimbol (100,101,001)

- bila bidang Kristal memotong dua sumbu,bersimbol (h,k,0 ; hok ; 0kl)

- bila bidang Kristal memotong ketiga sumbu,maka simbolnya, yaitu hkl.

Suatu Kristal mempunyai bidang bidang-bidang yang memotong sumbu Kristal a, b, c; contoh bidang pinacoid memotong semua sumbu,maka bidang ini dinyatakan dalam notasi symbol bidang Kristal a, b, c symbol, berposisi (100),(010) dan (001); bila bidang kristal memotong dua sumbu dan sejajar terhadap satu sumbu lainya ,bidang ini diberisimbol huruf m (110),sedangkan bila bidang Kristal memotong ketiga sumbu a, b, dan c, maka diberi symbol p (111).

2. simetri kristal

dikenal 4(empat) kedudukan posisi simetri,yaitu sebagai berikut :

a) simetri bidang cermin, bahwa kedudukan suatu Kristal dibelah dua menunjukan morfologi sama bentuk berpasangan posisi bidang titik maupun ukuran sudut bidangnya ,seperti cermin (“symmetry plane”)

b) simetri sumbu putar (“symmetry line center”) yang menggambarkan bahwa kedudukan posisi sama bentuk bidang-titik-sudut bidang yang berpasangan nampak berulang bila sumbu c Kristal diputar 180 (2-fold symmetry) ; diputar 120 (3-fold symmetry,trigonal) ; diputar 90 (4-fold symmetry,tetragonal); dan diputar 60 (6-fold symmetry hexagonal).

c) Simetri titik pusat (“symmetry point senter”)yang menggambarkan bahwa kedudukan posisi simetri sama bentuk nampak pada jarak yang sama melalui titik pusat Kristal,posisi simetri ini disebut juga “inversion” (posisi silang).

d) Simetri sumbu pusat putar inverasi/ silang(“symmetry axis of rotary inversion”),yang menggambarkan bahwa kedudukan posisi simetri sama betuk melalui sumbu putar inverse.

Pada kedudukan posisi simetri,dikenal simbol-simbol simetri sumbu, simetri bidang, simetri rotasi inversi dan simetri pusat yang disebut sebagai simbol unsur materi, yaitu :

- A n, A adalah simbol banyaknya sumbu simetri sumbu rotasi (putar) dan sumbu rotasi inverse, dengan perputaran n = 1,2,3,4,6. (1 sumbu dengan 4 putaran = 1 A)

- P , adalah simetri bidang, yang menunjukan simetri bidang cermin (2 bidang cermin = 2P)

- C , adalah simbol simetri pusat atau simetri titik pusat invensi ( satu simetri pusat = C )

Dapat disederhanakan melalui model simetri simbol Hermann-Mauguin, yaitu:

Sabtu, 10 Oktober 2009

Peta GEOLOGI

Pengertian Peta Geologi
Peta geologi adalah bentuk ungkapan data dan informasi geologi suatu daerah/wilayah/ kawasan dengan tingkat kualitas yang tergantung pada skala peta yang digunakan dan menggambarkan informasi sebaran, jenis dan sifat batuan, umur, stratigrafi, struktur, tektonika, fisiografi dan potensi sumber daya mineral serta energi yang disajikan dalam bentuk gambar dengan warna, simbol dan corak atau gabungan Ketiganya.(Keputusan Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral, Nomor 1452 K/10/MEM/2000. 2000)

Menurut SNI 13-4691-1998 definisi pengertian peta geologi adalah:
Peta geologi adalah bentuk ungkapan data dan informasi geologi suatu daerah/wilayah/kawasan dengan tingkat kualitas berdasarkan skala.
Peta geologi menggambarkan informasi sebaran dan jenis serta sifat batuan, umur, stratigrafi, stuktur, tektonika,fisiografi dan sumberdaya mineral serta energi.
Peta geologi disajikan berupa gambar dengan warna, simbol dan corak atau gabungan ketiganya. Penjelasan berisi informasi, misalnya situasi daerah, tafsiran dan rekaan geologi, dapat diterangkan dalam bentuk keterangan pinggir.

Peta geologi dapat dibedakan atas peta geologi sistematik dan peta geologi tematik.
Peta geologi sistematik adalah peta yang menyajikan data geologi pada peta dasar topografi
Peta topografi adalah peta ketinggian titik atau kawasan yang dinyatakan dalam bentuk angka ketinggian atau kontur ketinggian yang diukur terhadap permukaan laut rata-rata.
Peta geologi tematik adalah peta yang menyajikan informasi geologi dan/atau potensi sumber daya mineral dan/atau energi untuk tujuan tertentu.

Pemetaan geologi adalah pekerjaan atau kegiatan pengumpulan data geologi, baik darat maupun laut, dengan berbagai metoda.
Sumber daya geologi adalah sumber daya alam yang meliputi sumber daya mineral, energi, air tanah, bentang alam dan kerawanan bencana alam geologi.
Simbol
Merupakan tanda yang dipakai untuk menggambarkan sesuatu pada peta geologi, berupa singkatan huruf, warna, simbol dan corak, atau gabungannya
Singkatan Hurup
Tata Warna
Simbol dan Corak Geologi

singkatan huruF
Satuan kronostratigrafi pada peta geologi ditunjukkan dengan singkatan huruf. Sebagai dokuman/acuan satuan kronostratigrafi adalah tabel yang dibuat oleh Elsevier (1989)
1. Hurup pertama (hurup besar) menyatakan jaman, misalnya P untuk Perem, TR untuk Trias, T untuk Tersier.
2. Hurup kedua (hurup kecil) menyatakan seri, misalnya Tm berarti kala Miosen dalam jaman Tersier.
3. Hurup ketiga (hurup kecil) menyatakan nama formasi atau satuan litologi, misalnya Tmc berarti Formasi Cipluk berumur Miosen.
4. Hurup Keempat (hurup kecil) menyatakan jenis litologi atau satuan peta yang lebih rendah (anggota), misalnya Tmcl berarti anggota batugamping Formasi Cipluk yang berumur Miosen.
5. Hurup kelima digunakan hanya untuk batuan yang mempunyai kisaran umur panjang, misalnya Tpokc berarti Anggota Cawang Formasi Kikim berumur Paleosen-Oligosen.
6. Hurup pT (p kecil sebelum T besar ) digunakan untuk singkatan umur batuan sebelum Tersier yang tidak diketahui umur pastinya.
7. Untuk batuan yang mempunyai kisaran umur panjang, urutan singkatan umur berdasarkan dominasi umur batuan, misalnya QT untuk batuan berumur Tersier hingga Kuarter yang didominasi batuan berumur Quarter; JK untuk batuan berumur Jura hingga Kapur yang didominasi batuan berumur Jura.
8. Batuan beku dan malihan yang tak terperinci susunan dan umurnya cukup dinyatakan dengan satu atau dua buah hurup, misalnya a untuk andesit, b untuk basal, gd untuk granodiorit, um untuk ultramafik atau ofiolit dan s untuk sekis.
9. Batuan beku dan malihan yang diketahui umurnya menggunakan lambang hurup jaman, misalnya Kg berarti granit berumur Kapur.
10. Pada peta geologi skala kecil, himpunan batuan cukup dinyatakan dengan huruf di belakang lambang era, jaman atau sub-jaman; misalnya Pzm berarti batuan malihan berumur Paleozoikum, Ks berarti sedimen berumur Kapur, Tmsv berarti klastika gunungapi berumur Miosen, Tpv berarti batuan gunungapi berumur Paleogen, Tni berarti batuan terobosan berumur Neogen. Satuan bancuh dinyatakan dengan notasi m.

Tata Warna
Warna dipakai untuk membedakan satuan peta geologi, dipilih berasaskan jenis batuan, umur satuan dan satuan geokronologi.
1. Warna dasar yang digunakan adalah kuning, magenta (merah) dan sian (biru) serta gabungannya. Setiap warna dinyatakan dengan sandi 0, 1, 3, 5, 7 dan x, yaitu sandi derajat kekuatan warna
2. Warna yang dipilih untuk membedakan satuan batuan sedimen dan endapan permukaan sepenuhnya menganut sistem warna berdasarkan jenis dan umur. Untuk membedakan beberapa satuan seumur dapat digunakan corak
3. Batuan malihan dibedakan berdasarkan (1) derajat dan fasies serta (2) umur nisbi batuan pra-malihan dan litologi. Tata warna batuan malihan sama dengan batuan sedimen atau mengunakan bakuan warna khusus.
4. Satuan tektonit dinyatakan dengan corak khusus.
5. Batuan gunungapi yang berlapis dan dan diketahui umurnya, mengikuti tata warna untuk batuan sedimen.
6. Simbol dan notasi (corak) yang tertera pada peta geologi harus tertera pada legenda
7.
Simbol dan Corak Geologi
Simbol dan notasi (corak) yang tertera pada peta geologi harus tertera pada legenda dan sebaliknya

Perpetaan

PERPETAAN

Pendahuluan

Peta merupakan sarana pokok yang harus dimiliki oleh setiap wilayah/daerah, atau dalam hal ini perusahaan pertambangan, untuk memungkinkan pelaksanaan tertib penyelenggaraan administrasi dengan baik, yang mencakup luas areal, potensi sumber daya mineral serta energi, disamping peta juga mampu menunjukan posisi dan letak suatu bangunan, juga kondisinya.

DEFINISI PETA

Peta adalah penyajian secara grafis seluruh atau sebagian kecil unsur permukaan bumi dengan suatu perbandingan atau skala tertentu yang menggambarkan diatas suatu bidang datar melalui suatu proyeksi. Peta menyajikan unsur-unsur di permukaan bumi dengan cara memilih, meyelesaikan atau menganalisir sesuai dengan maksud dan tujuan dari pembuatan peta tersebut. (Ilmu Ukur Tanah Bagian I. 2002).

Jenis-Jenis Peta

o Peta Topografi yaitu peta yang memperlihatkan posisi harizontal dan unsur alam dan unsur buatan manusia dalam suatu bentuk tertentu serta ketinggian atau posisi vertikal dari permukaan bumi/terrain terhadap bidang referensi (acuan)

o Peta Tematik yaitu suatu bentuk peta yang menyajikan unsur-unsur tertentu dari permukaan bumi sesuai dengan topik atau judul petanya.

Contoh Peta Tematik

o Peta Hidrologi yaitu peta yang memuat informasi tentang keadan dasar lautan, kedalaman air serta keterangan-keterangan lain yang diperlukan untuk pelayaran.

o Peta geologi yaitu peta yang memuat informasi tentang keadaan geologis suatu daerah, bahan-bahan pembentuk dari suatu lapisan, batuan dan lain-lain.

o Peta Irigasi yaitu peta yang memuat informasi tentang jaringan irigasi suatu pengairan.

o Peta Kadaster peta yang memaut informasi bata-batas kepemilikan tanah, batas wiliyah atau batas tanah.

o Peta Tata Guna Lahan yaitu peta yang memuat informasi tentang rencana induk pengembangan fungsi suatu wilayah.

Tujuan Pemetaan

o Adapun beberapa tujuan pembuatan peta, antara lain (sasongko. 1993):

a. Untuk menyampaikan informasi

b. Media komunikasi tetang informasi ruang

c. Membantu dalam membuat desian ataupun perencanaan teknis

d. Mendukung suatu pekerjaan teknis dan navigasi

e. Untuk menganalisis data pengukuran.

Fungsi Pemetaan

Secara umum fungsi peta dapat dikaitkan dengan berbagai macam kepentingan antara lain: bidang pemerintahan, bidang hankam, politik, ekonomi, sosial, budaya dan lain-lain. Dalam hal pembuatan peta yang standar sesuai dengan kebutuhan.

Peta mempunyai fungsi antara lain (Sasongko. 1993):

a. Menunjukan sautu lokasi, yaitu letak suatu tempat dalam hubungannya dengan tempat lain di permukaan bumi.

b. Memperhatikan bentuk

c. Memperhatikan ukuran

d. Menunjukan arah

e. Menghimpun data.

Pertimbangan utama dalam penentuan jenis peta pada umumnya antara lain :

Ø Pembuatan peta dengan spesifikasi tertentu mempunyai konsekwensi pada biaya dan waktu yang dibutuhkan, makin tinggi spesifikasi yang harus dipenuhi, maka semakin tinggi pula biaya dan waktu yang dibutuhkan.

Ø Tingkat kebutuhan akan peta dari suatu desa dengan desa lainnya akan berbeda tergantung dari jumlah serta jenis permasalahan yang dihadapinya.

Persyaratan Pemetaan

Dalam sebuah peta harus memberikan gambaran secara jelas informasi-informasi yang dibutuhkan sesuai dengan tingkat kebutuhan user, yang secara umum harus memuat, Legenda (Keterangan simbol dan warna) juga garis lintang dan bujur yang disebut juga garis astronomi. Garis Astronomi ini adalah garis khayal/abstrak pada globe atau peta yang digunakan untuk mencari letak suatu tempat dimuka bumi yang terdiri dari garis Lintang (Paralel) dan garis Bujur (Meridien)

Skala Peta

Skala peta adalah perbading jarak yang tercantum pada peta dengan jarak sebenar nya yang dinyatakan dalam angka atau garis atau gabungan keduanya.


Skala dapat diklasifikasikan sebagai berikut (sinaga. 1992):

o Skala besar, lebih besar 1:10.000

1 : 10.000

1 : 2.500

1 : 1.250

o Skala Menengah, antara 1:10.000 s/ 1:25.000

o Skala Kecil, lebih kecil 1: 25.000

Simbol atau Leganda

Adalah keterangan yang menunjukkan suatu tempat, waktu dan lain sebagainya dengan menggunakan simbol-simbol tertentu yang umum serta garis garis yang membedakan batas dan satuan warna warna untuk membedakan ketinggian dan kedalaman tempat.

Simbol atau Legenda


My Friends